Tammauni Pue Ballung, Panutan Masyarakat Mamuju Tengah

Tammauni Pue Ballung, Panutan Masyarakat Mamuju Tengah

Benteng Kayu Mangiwang, simbol perjuangan Kemerdekaan Masyarakat Budong-Budong


Website Resmi Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah,

Tobadak,- Tammauni Pue Ballung lahir di Budong-Budong pada tahun 1900, dan tahun kelahiran tersebut oleh masyarakat adat menyebutnya dengan NOL. Beliau adalah putra kedua  dari lima bersaudara dari ayahnya Zirul Al Alamin DaengNa Maccirinnae, pimpinan perlawanan rakyat melawan Belanda tahun 1906-1907 di Benteng Kayu Mangiwang.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau selalu berada di tengah-tengah masyarakat adat Budong-Budong melanjutkan kedudukan ayahandanya Zirul Al Alamin DaengNa Maccirinnae yang mengangkat sumpah setia dengan masyarakat adat Budong-Budong yang dipimpin kepala adat yang disebut Talli’ hingga tujuh turunan yang implementasinya dalam bentuk Pemanna.

Di samping kedudukan tersebut di atas dalam struktur Gala’gar pitu pemerintahan kerajaan Mamuju, beliau diangkat menjadi Pue Ballung yang berkedudukan di Budong-Budong dengan batas wilayah dari Karossa hingga Polo, di samping tugas lainnya di kerajaaan mamuju mendampingi raja menangani seni dan kebudayaan serta anggota hakim dalam membahas perkara di depan raja Mamuju bersama dengan perangkat Gala’gar pitu.

Perkembangan selanjutnya pada saat pembentukan distrik di Kabupaten Mamuju juga dibentuk distrik Budong-Budong dan beliau sekaligus diangkat menjadi Kepala Distrik, juga Kepala Adat.

Dalam menjalankan tugas sesuai kedudukannya sebagai Kepala Adat, Pue Ballung pernah dipenjara di Majene oleh Belanda bersama Isham Pue Pepa” dan Sainuddin KDT Summare, setelah itu kembali menjalankan tugasnya sebagai Pue Ballung dan Kepala Distrik Budong-Budong.

Selama hidupnya, Tamauni Pue Ballung memegang jabatan :

1. PueNa to Budong-Budong dari masyarakat adat Budong-Budong mewarisi kedudukan ayahandanya Zirul Al Alamin yang meninggal di kapal di perairan Saigon Bangkok dalam perjalanannya saat kembali menunaikan ibadah haji di Mekkah.

2. Kepala Adat Pue Ballung di Budong-Budong dari struktur pemerintahan kerajaan Mamuju Gala’gar pitu yaitu Kali, Pabicara, Baligau, Pue Ballung, Pue Pepa, Pue To Kasiwa dan Pue To Bone-bone.

3. Anggota  Hakim Adat dalam setiap pembahasan perkara di kerajaan Mamuju.

4. Membidangi seni budaya dalam wilayah pemerintahan kerajaaan Mamuju.

5. Kepala Distrik wilayah Budong-Budong.

Pribadi beliau sangat dikenal di wilayah Mandar dari Paku sampai Suremana khususnya di kawasan Balanipa dan Sendana sebagai salah satu putra Zirul Al Alamin yang melanjutkan cita-cita  perjuangan ayahandanya dalam memajukan masyarakat Budong-Budong dan daerah Mamuju pada umumnya.  Saat itu  pelanjut cita-citanya diteruskan oleh putranya H. Muhammad Aras Tammauni yang masih remaja  sudah menampakkan perhatian, memberi motivasi dan memimpin masyarakat Budong-Budong ke arah yang lebih baik dan membantu  kehidupan masyarakat tanpa pamrih dan tanpa pilih kasih, kerjasama serta membantu pemerintah dalam pembangunan daerah hingga terbentuknya Kabupaten Mamuju Tengah yang sekarang telah memasuki tahun kedua sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB). Tamauni Pue Ballung meninggal dunia dengan tenang di tengah keluarganya pada hari Jumat pukul 16.00 WITA pada tanggal 4 Juni 1971 di mamuju dalam usia 71 tahun, meninggalkan seorang istri, 13 orang anak serta 24 cucu. Sepeninggal beliau sangat dirasakan kehilangan sosok pimpinan adat dan orang tua yang sangat bersahaja. Oleh masyatakat adat Budong-Budong diberikan sebutan “To Matindo Dilampana” sama dengan ayahandanya Zirul Al Alamin dengan sebutan “To Matindo Diselong”.

(Diambil dari karya Herly Said, BSc.Ac) Des.2104